Kamis, 17 Juli 2008

Orang Kaya di Kepala Herman "The Pursuit Of Happyness"

Rie mengajak herman dan anaknya yang berusia 6 tahun [pedagang di kios kecil dekat rmh] pergi jalan-jalan ke Mall, sebab salah satu definisi orang kaya menurut herman seperti itu.

Sederhana, lucu, sekaligus tragis.

Rie ajak herman beli baju buat dia dan anaknya. Kemudian kita makan fast food, lantas nongkrong di starbuck. Jangan ditanya tatapan mata orang-orang pada kami bertiga selama jalan-jalan di mall.

Rie : “Apa rasanya kopi itu ?”

Herman : “Pahit banget, bang”

Rie : “Herman, café ini gak secanggih warkop yang membuatkan kopi langsung dengan gulanya dan kita tinggal aduk”

Aku lantas menyodorkan gula sama Herman yg masih bingung.

Rie : “Kamu tahu berapa harganya segelas kecil ini ?, lebih besar dari keuntungan dagangan kios kamu selama 2 hari”

Kali ini herman melotot hampir tersedak.

Keuntungan dagangan herman seharinya sekitar 10 s.d. 20 ribu. Kemudian dipotong ongkos angkot 4 ribu dan makan sekali sehari 5 ribu. Sebungkus nasi itu masih harus berbagi dengan anaknya. Kalo lagi apes dan dia Cuma dapat keuntungan 10 ribu, maka praktis herman hanya mengantongi keuntungan seribu perak berjualan dari jam 7 pagi hingga tengah malam.

Rie : “Kamu coba lagi rasanya kopi yang sudah kau kasih gula itu, apa rasanya sama atau beda dengan kopi sachet yang ada di kios kamu ?”

Herman : “Hampir tak ada bedanya, bang. Rasa kopi
dimana-mana sama aja”

Rie : “Lebih enak mana perasaan kamu minum kopi di café ini atau di kios kamu”

Herman : “Lebih enak minum kopi di kios bang, bisa bebas sambil angkat kaki, bisa bebas sambil duduk gaya apa aja”

Rie : “Kamu paham sekarang kan ?, minum kopi adalah perkara selera. Kalau kamu merasa kopi sachet lebih enak dan tempat minum kopi paling indah di kios kamu sendiri. Maka orang-orang yg ada di café ini harus iri sama kenikmatan minum kopimu itu, kamu lebih kaya dari mereka semua dalam urusan minum kopi”

Herman kini tersenyum sumringah. Kemudian meluncurlah cerita tentang cita-citanya memperbaiki hidup dengan sholat dan naik haji

Herman : “Saya sekarang tiap kali waktu sholat tutup kios, bang. Saya berdoa, udah 3 tahun tak ada perkembangan usaha”

Rie : “Bagus itu, lantas kalo selama setahun ke depan kamu terus sholat dan beribadah dengan rajin ternyata usahamu gak berkembang, apa kamu berhenti sholat ?”

Kali ini herman bener-bener gak menyangka reaksi jawabanku dan hanya terdiam.

Rie : “Kalo usahamu berkembang dan kamu bisa menabung, apa keinginan kamu”

Herman : “Naik haji, Bang”

Rie : “Mantap…sekarang kamu mau mencoba menyisihkan uang, misalnya 500 atau 1000 perak setiap hari ?. Artinya dalam sebulan tabungan kamu 15 atau 30 ribu”

Herman : “Berat bang, belum tentu bisa, saya mau mencobanya”

Rie : “Kamu punya KTP ?”

Herman mengangguk dan sinar matanya tampak bertanya-tanya.

Rie : “Sekarang sudah gak sempat ke Bank, besok atau lusa kita sama-sama pergi ke Bank, kita buka rekening buat tabungan naik haji kamu, nanti kamu ingatkan aku. Bawa KTP jangan lupa”

Jelas herman tak punya uang buat setoran awal buka rekening di
Bank yang ratusan ribu rupiah, itu akan jadi urusanku dan aku tak mau menceritakannya sekarang sama Herman, takut semangat menabungnya jadi lemah atau mungkin malah hilang.

Herman : “Biaya naik haji kan puluhan juta, kalo saya nabung segitu, kapan saya naik hajinya, bang ?”

Rie : “Kapan kamu mati, herman ?”

Herman : “Ada-ada aja abang ini, nanyanya aneh”

Rie : “Pertanyaan kamu barusan lebih gila lagi, sama gilanya ketika kamu sholat dan berdoa lantas berharap kios kamu jadi toko besar tanpa kamu melakukan apapun”

Masih banyak obrolan lucu dan gak penting lainnya, setelah dari strabuck kuajak herman ke pasar Bogor buat beli kopiah haji, kubiarkan dia memilih kopiah haji sesuai keinginannya. Kemudian kuantarkan dia pulang ke kios mungilnya.

Rie : “Hari ini kamu udah jadi orang kaya seperti yang kamu ceritakan, kamu udah menginjakkan kaki di mall, terus kamu udah makan dan minum di tempat orang kaya. Sekarang kamu tinggal berusaha menabung minimal 500 perak per hari, sebulan sekali nanti kamu tabung uang itu di Bank. Satu hal lagi, kamu mau kan pakai kopiah haji itu setiap hari sambil jualan ?”

Herman : “Aku malu bang, kalo harus pakai kopiah haji tiap hari”

Rie : “Wahai haji herman, naik haji bukan urusan kopiah yang kau dapat halal dengan membeli dan bukan mencurinya. Kalo kamu nanti terkabul naik haji sekalipun, gak perlu malu kalau ke mesjid pake topi atau gak pakai kopiah”.

========================================================

Ketika kita bisa memaknai bahwa makan fast food yg puluhan ribu atau makan di restoran mewah ratusan ribu, pada hakekatnya sama nikmatnya dengan makan di warteg pinggir jalan seharga 5 ribu perak.

Makan adalah persoalan kebutuhan kalori dan rasa kenyang, bukan soal jumlah dan harga.

Ketika kita bisa tidur di hotel mewah atau kasur butut di kost atau di emperan jalan dengan sama nikmatnya. Kalo tempat kita tidur dikaitkan higienis dan kesehatan, tentu soal lain. Namun esensi tidur adalah perkara memejamkan mata dan terlelap, tak terkait dengan prestise.

Begitulah hidup, sederhana saja...seperti definisi orang kaya menurut Herman : manusia yg jalan - jalan & belanja di Mall


Special Thank's To : Herman
"Buatku Herman adalah jelmaan Chris Gardner di film The Pursuit Of Happyness yg diperankan Will Smith"


Herman aslinya dari Madura, matanya buta sebelah, terdampar di Bogor dan berjualan rokok serta pernak-perniknya di kios kecil deket rumah Rie. Punya anak laki-laki usia 6 tahun yg selalu dibawanya kemanapun dia pergi.
Mantan Istrinya meninggalkan Herman dan anaknya balik ke madura ketika anaknya berusia 1 tahun, alasan klise karena kehidupan Herman tidak menjanjikan, kabar terakhir istrinya sekarang udah kawin lagi.
Setiap kali Herman bercerita tentang mantan istrinya, matanya berair dan suaranya lirih. Kegigihannya membesarkan dan merawat anak lelakinya dalam keterhimpitan hidup, mengingatkanku pada Chris Gardner.

Oleh :
ririe_genta

Senin, 19 Mei 2008

Michael Schumacher (cerita sukses)

Berbicara soal Formula One, pasti kita sudah tidak asing lagi dengan nama Michael Schumacher. Ya, pembalap F1 yang satu ini memang rajanya dunia balap. Pria yang akrab disapa Schumi ini merupakan pembalap Jerman pertama yang berhasil menjadi juara dunia F1. Bayangkan saja, pria kelahiran 3 Januari 1969 ini menjuarai 90 balapan F1 dengan rekor tujuh kali merebut gelar juara umum F1.

Pertama kali Schumi diperkenalkan pada dunia balap oleh ayah dan ibunya Rolf dan Elisabeth. Tepat di hari ulang tahunnya yang keempat, ia dihadiahi sebuah gokart yang dibuat sendiri oleh ayahnya. Dilengkapi dengan mesin sepeda motor kecil, ia belajar mengendarai gokartnya di sirkuit lokal, di luar Kerpen.

Sifat pantang menyerahnya terlihat sejak kecil. Schumi rela berhujan-hujanan menyelesaikan lapnya di sirkuit lokal Kerpen. Untuk mengasah feeling dan keseimbangan, Schumi berlatih kuda. Ia belajar kapan harus menarik tali kekang dan menjaga keseimbangan saat berdiri di atas sanggurdi.

Pada usia 12 tahun, Schumi mulai ikut balapan sebenarnya. Gelar pertamanya adalah menjuarai Karting Jerman kelas Junior pada tahun 1984. Sejak saat itulah, bakatnya makin terasah. Prestasinya menanjak dengan cepat. Tahun 1989, Schumi meningkatkan kelasnya dengan menjajal dunia balap Formula Three. Baru dua tahun, Schumi langsung keluar sebagai juara dunia F3.

Schumi semakin memantapkan dirinya di dunia balap saat masuk ke arena F1 pada tahun 1991. Prestasi Schumi melesat bersama Benetton. Tahun pertamanya di F1 bersama Benetton, ia langsung menjadi juara ketiga. Hingga, berturut-turut, ia menjadi juara dunia F1 pada tahun 1994 dan 1995. Tidak lama kemudian, Schumi hengkang ke Ferrari. Bersama Ferrari, Schumi makin gemilang. Ia mengantarkan tim Kuda Jingkrak tersebut menjadi juara dunia F1 dari tahun 2000 hingga 2004.

Menurut direktur teknik Ferrari Ross Brawn, keberhasilan Schumi terletak pada komitmen totalnya terhadap tim. Ia selalu menunjukkan solidaritas saat menghadapi masalah, dan mampu memotivasi seluruh anggota tim, di saat senang dan susah. Hasilnya, setiap orang ingin melakukan yang terbaik. Yang mengagumkan adalah kemampuannya memperoleh banyak informasi tentang mobil. Hanya dalam beberapa lap, ia bisa memberi petunjuk, termasuk masalah kecepatan.

Michael sangat paham titik-titik lemah mobil pendahulunya, ia membantu timnya untuk memperbaiki area-area yang harus diperbaiki, ia selalu mempunyai ide untuk mengembangkan mobilnya. Menurut Brawn, kecepatan bukanlah segalanya. Konsistensi adalah kunci kesuksesan Schumi. Ia tak hanya cepat di satu lap, tetapi mampu menjaga ritmenya. Dedikasi total dan kemauannya untuk melibatkan diri merupakan karakternya.

Pada tanggal 10 September 2006, Schumi mengumumkan pengunduran dirinya dari ajang F1. Setelah pensiun, Schumacher masih terlibat dengan tim Ferrari untuk membina pembalap-pembalap muda seperti Kimi Raikkonen dan Felipe Massa.

Kecintaan pada dunia balap membuat Schumi berhasil menorehkan tinta emas di dunia internasional. Komitmen, dedikasi, kemauan, kerja keras, konsistensi, solidaritas, dan kebersamaan dengan tim membuatnya merajai dunia balap. Kecintaannya pun tidak memudar walau ia sudah pensiun dengan membina pembalap-pembalap muda. Sebuah rekor fantastis dari seorang Michael Schumaker dan perjalanan hidup yang dapat diteladani.

Team Andrie Wongso

Kamis, 10 April 2008

ITU MENYEDIHKAN. ITU MENYENANGKAN. ITULAH HIDUP


Materi oleh: Chuck Gallozzi

Berikut ini adalah sebuah cerita yang mengandung kebijaksanaan di dalamnya.


MENYEDIHKAN, ITULAH HIDUP

Suatu ketika, seorang petani miskin terbingung-bingung menerima kenyataan karena kudanya telah mati semalam. "Menyedihkan sekali," tetangganya berkata. "Bagaimana kamu akan mengolah tanah yang keras ini tanpa kudamu?" tanya tetangganya. "Itulah hidup," sahut petani kepada tetangganya.


MENYENANGKAN, ITULAH HIDUP

Kemudian, seorang juragan yang kaya raya dari desa lain mendengar kabar tentang kuda itu. Juragan itu pun jatuh kasihan dan menghadiahi si petani dengan seekor kuda yang baru. "Menyenangkan sekali!" kata tetangganya tadi. Sekali lagi, si petani hanya berkata, "itulah hidup."


MENYEDIHKAN, ITULAH HIDUP

Suatu malam dua bulan kemudian, karena ketakutan saat terjadi hujan badai yang disertai petir dan angin kencang, kuda itu melompati pagar dan melarikan diri ke gunung. Sekali lagi, si petani harus kehilangan kudanya. Tetangganya mengomentari lagi, "Menyedihkan sekali, sekarang bagaimana?" Petani itu berkata pendek, "itulah hidup."


MENYENANGKAN, ITULAH HIDUP

Kurang dari tiga bulan kemudian, dengan mengejutkan orang sedesa, kuda itu kembali lagi ke kandang si petani. Hanya saja, kuda itu tidak kembali sendirian, melainkan datang bersama dengan seekor kuda lain yang terlihat begitu gagah. Sekarang petani itu punya dua kuda!

Kini, si petani dapat memanfaatkan satu kuda dan anaknya memanfaatkan kuda yang lain. Keluarga petani itu bisa panen dengan hasil dua kali lipat lebih banyak dari pada panen sebelumnya. Tetangga petani itu benar-benar tercengang dengan keberuntungannya. "Menyenangkan sekali!" komentarnya seperti biasa. Dan lagi-lagi: "Itulah hidup."


MENYEDIHKAN, ITULAH HIDUP

Musim dingin segera tiba. Para petani tak lagi bisa mengolah tanah yang dingin dan membeku.

Anak petani berpikir, itu adalah saat yang tepat untuk menunggangi kudanya berkeliling desa. Anak petani itu pun menaiki kudanya. Tapi sayangnya, ia tak cukup kuat dan pandai menunggangi kuda yang gagah dan perkasa. Ia terlempar jatuh, terluka, dan mengalami patah di kakinya. Tetangga petani itu berkomentar, "menyedihkan sekali!". "Sekarang anakmu cacat", tambahnya lagi. Petani itu menjawab, "itulah hidup."


MENYENANGKAN, ITULAH HIDUP

Saat musim semi tiba, datanglah seorang perwira militer ke desa itu. Dia mengambil semua pemuda yang sehat raganya, untuk ikut berperang di provinsi tetangga. Akibatnya, hampir semua pemuda dari desa itu tewas dalam peperangan.

Tetangga petani itu berujar lagi, "alangkah beruntungnya anakmu yang cacat itu. Ia tetap selamat bersamamu." Petani itu berterimakasih kepada tetangganya, kemudian ia berkata "itulah hidup."


TERIMALAH HIDUP "APA ADANYA", BUKAN "ADA APANYA"

Cerita di atas terus diceritakan dari generasi ke generasi. Mengapa? Karena cerita itu adalah mikrokosmos dari kehidupan. Hanya dengan beberapa paragraf, adalah sangat mungkin bagi kita untuk menarik pelajaran penting dari prinsip kehidupan.

Sesuatu yang baik bisa muncul dari sesuatu yang buruk. Tak usahlah Anda terlalu sedih, jika Anda tak tahu akan bagaimana akhir dari semua yang Anda alami. Begitu pula, sesuatu yang buruk bisa muncul dari sesuatu yang baik. Janganlah Anda terlalu senang dengan gelimang segala senang yang Anda rasakan saat ini.

Prinsip terpenting dari moralitas cerita di atas adalah, kita tidak akan pernah tahu kapankah keadaan kita akan baik atau buruk. Hanya waktu yang akan mengatakannya. Jadi, bagaimanakah kita harus memperlakukan hidup ini? Dengan tangan terbuka. Terimalah berbagai hal sebagaimana adanya. Terimalah semua hal "apa adanya", bukan "ada apanya".

Satu cara untuk mengekspresikan prinsip di atas, adalah begini:

"Pada akhirnya, segala sesuatu akan menjadi baik. Jika sesuatu tidak baik sekarang, maka itu bukan akhir segalanya."

Banyak dari kita, buta akan kehidupan. Obat kebutaan itu bukanlah 'sight' akan tetapi 'insight'. Lihatlah ke dalam. Untuk itu, tidak diperlukan mata, melainkan mata hati. Semuanya hanya perlu dimengerti. Semuanya hanya perlu dimengerti dengan prinsip-prinsip kehidupan.


APA YANG TERLIHAT TIDAK SEPERTI YANG TERLIHAT

Misalnya, "apa-apa tidak seperti penampakannya." Sesuatu yang terlihat baik, mungkin sebenarnya buruk. Begitu pula sebaliknya, apa yang terlihat buruk bisa jadi baik.

Perspektif, persepsi, sudut pandang, atau sikap kita, tidak semestinya di dasarkan pada data dari panca indera. Tidak semestinya juga didasarkan pada penampilan atau penampakan. Semestinyalah, cara kita melihat hidup didasarkan pada cahaya ilmu, pengetahuan dan pemahaman.

Pertimbangkan ini: menghakimi orang lain adalah seperti mengemudi kendaraan. Kita marah karena lampu mobil mereka menyilaukan mata kita, padahal lampu mobil kita sendiri mungkin lebih menyilaukan mata mereka.

Jika kita mau menerapkan pemahaman ini, maka kita akan berhenti merasa diserang oleh berbagai tampilan. Kita tidak melihatnya dengan mata, tapi dengan mata hati kita.

Ketahuilah, bahwa kebahagiaan tidak datang dari posisi tertentu, melainkan dari disposisi tertentu. Kebahagiaan bukan soal altitude melainkan attitude. Bukan tentang ketinggian posisi, melainkan keluhuran budi. Hanya itulah yang membedakan kebahagiaan dari kesedihan dan duka lara, kesehatan dari sakit, dan kesuksesan dari kegagalan.


MENYENANGKAN DAN MENYEDIHKAN, ITULAH HIDUP

Pertimbangkanlah poin-poin berikut ini:

  • Mawas dirilah tentang persepsi Anda akan kehidupan. Apakah Anda selalu senang, berbahagia dan merasakan kenikmatan? Jika tidak, berhentilah mengeluh karena itu tidak produktif. Berupayalah untuk mengerti bahwa persepsi tidak datang dari luar melainkan dari dalam. Jika Anda tidak berbahagia, persoalannya ada pada diri Anda. Bukanlah dunia yang tidak berbahagia, melainkan Andalah yang tidak berbahagia. Itu artinya, bukan dunia yang perlu diubah melainkan Andalah yang harus berubah.
  • Bagaimana Anda bisa berubah? Mulailah dengan menemukan kenyataan, akan adanya seribu satu jalan untuk menginterpretasikan berbagai kejadian. Anda punya kekuatan untuk memilih satu, dari tak terbatasnya sudut pandang. Pilihlah sudut pandang yang positif dan konstruktif. Berhentilah dengan segala reaksi otomatis seperti selama ini. Belajarlah untuk berhenti dan berpikir sejenak sebelum bertindak. Lihatlah dunia dengan cahaya alasan dan penyebab, jangan hakimi ia karena penampilannya.
  • Sadarilah, saat Anda memilih untuk melihat dunia dengan kaca mata yang berbeda, Anda akan merasa berbeda. Dan saat Anda merasa berbeda, Anda akan bertindak berbeda. Untuk menjadikan dunia ini pink bagi Anda, caranya mudah saja: Pakailah kacamata berwarna pink.
  • Memutuskan untuk berubah belumlah cukup. Janganlah berhenti hanya pada niat baik. Akhirilah dengan tindak lanjut. Make a plan and complete what you begin.
  • Mengembangkan kebiasaan baru selalu perlu upaya. Jangan berhenti hanya karena kendala. Gandhi mengatakan, "effort brings discomfort."
  • Saat menghadapi kesulitan, ingatlah bahwa itu tidak datang dari nasib buruk atau takdir acak. Nasib tidaklah buruk, dan takdir tidaklah asal-asalan. Andalah yang buta. Bagaimana Anda bisa melihat hari ini, sesuatu yang baru akan terjadi besok?
Jadilah petani miskin, dan katakan: "Itulah hidup."